NKRI NOW
Nasional

Pangkar Ungkap Risiko Beralih ke Program Kompor Listrik

Nkrinow- Program konversi kompor gas ke kompor bertenaga listrik dinilai memungkinkan dengan sejumlah syarat. Apakah penerapannya realistis dan praktis? Pemerintah berencana melakukan konversi LPG 3 kg ke kompor listrik dengan uji coba di Solo dan Denpasar.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan masyarakat tak perlu menambah daya listrik jika ingin beralih ke kompor listrik. Menurutnya, warga cukup memasang Miniatur Circuit Breaker (MCB). Jalurnya dibedakan dengan jaringan listrik biasa.

“Untuk kompor induksi, kami memakai MCB jalur khusus, enggak tersambung dengan pola konsumsi listrik golongan tarif lama,” ujar dia, di gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/09). MCB merupakan perangkat untuk memutus rangkaian listrik jika ada kelebihan beban serta hubungan singkat.

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Minteral Dadan Kusdiana mencontohkan perubahan MCB pada pelanggan listrik 450 volt ampere (VA) menjadi 3.500 watt. “Nanti diganti MCB-nya menjadi 3.500 watt untuk yang 450 (VA),” katanya, Selasa (20/09).

Realistiskah?

1. Biaya pemasangan baru
Dosen Teknik Elektro di Politeknik Negeri Malang Rahman Azis Prasojo menyebut penggunaan MCB khusus untuk memisahkan jalur listrik kompor induksi sangat memungkinkan. “Sangat memungkinkan, hanya mungkin yang akan mahal adalah pengadaan kWh meter barunya,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/9).

Menurut dia, beban biaya tak hanya terdapat pada pengadaan kWh meter, tetapi juga komponen listrik lain seperti kabel dan MCB-nya. Kemudian ada juga beban biaya pemasangan instalasi. Azis menyebut penggunaan kompor induksi akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan kompor gas. Salah satunya karena pelanggan tidak perlu repot melakukan isi ulang jika menggunakan kompor jenis ini.

“Penggunaan kompor induksi menguntungkan dari sisi kemudahan (tidak perlu mencari gas kalau habis), dan juga efisiensi (prinsip kerja induksi elektromagnetik, losses rendah karena langsung panci yang panas)” tuturnya. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Rida Mulyana sempat mengatakan pihaknya akan membagikan paket kompor listrik gratis pada 300 ribu rumah tangga yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Isinya, per rumah mendapat kompor, alat masak, dan kenaikan daya. Dia tak merinci lebih lanjut per item dan biaya yang ditanggung Pemerintah.

2. Kepraktisan
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut pembuatan jalur baru untuk kompor listrik akan menjadikan rumah memiliki dua sambungan listrik. Metode serupa digunakan PLN untuk membuat home charging mobil listrik.

“Secara teknis bisa dilakukan, diambil dari jalur listrik PLN, lalu dipakai meter dan MCB sebagai limitter (pembatas arus) sesuai kebutuhan kompor listrik. jadi nanti rumah punya dua sambungan listrik,” ujar Fabby kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/09).

“Ini dilakukan PLN untuk home charging mobil listrik,” tambahnya. Fabby mengatakan metode ini tidak sukar dan tidak mahal, tetapi tidak praktis untuk diterapkan. “Secara teknis tidak sukar dan tidak mahal. Tapi menurut saya tidak praktis saja, ada sambungan khusus untuk kompor listrik,” tuturnya.

Menurutnya, lebih baik menaikkan daya listrik untuk masyarakat miskin, tetapi tetap mengenakan tarif subsidi. “Mungkin bagi masyarakat miskin yang terkena program ini dinaikkan saja daya listrik dari 450 VA/900 VAke 2200 VA, dan dikenakan tarif subsidi,” pungkas dia.

Related posts

Dana Rehabilitas Mangrove Indonesia Rp 1,8 Triliun Harus Bermanfaat

admin

Ungkap Banyak Penyusup di Pemerintahan, Mahfud MD Minta Perketat Rekrutmen

Mediaku

Yakin Tak jadi Presiden 2024, Erick Thohir: Presiden Berikutnya Orang Jawa

Mediaku

Ucapkan Selamat Hari Pahlawan, Jokowi: Generasi Penerus Pahlawan Tetap Setia Jaga Kemerdekaan

Mediaku

Segini Angka IHSG Usai Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi

admin

Jawaban Suahasil Saat Bupati Meranti Sebut Ada Iblis di Kemenkeu

Mediaku